
Kampus Utama, 18 September 2025 – Racun Sangga, praktik ilmu hitam khas Kalimantan, kembali menjadi bahan perbincangan hangat. Fenomena yang sudah lama hidup di tengah masyarakat ini bukan hanya menyisakan kisah mistis yang diwariskan turun-temurun, tetapi kini mulai mendapat sorotan akademik.
Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Banjarmasin yang tergabung dalam tim Program Kreativitas Mahasiswa Riset Sosial Humaniora (PKM-RSH) yang diketuai oleh Abdus Salam dengan anggota Hamidatul Janah, Amalia, Ananda Yasyfa Nurhaliza Sugita dan Muhammad Farid Fikriansyah, turun langsung ke lapangan untuk meneliti fenomena tersebut. Mereka melakukan pendekatan etnografi dengan tinggal bersama warga, mewawancarai korban, tokoh adat, tenaga medis, hingga tokoh agama.
“Korban Racun Sangga biasanya mengeluhkan gejala fisik yang mirip dengan infeksi kulit, seperti gatal-gatal, muncul bintik berisi cairan, bahkan nyeri hebat. Namun anehnya, ketika diperiksa secara medis, hasil laboratorium tidak menunjukkan adanya penyebab yang jelas. Hal ini yang membuat kami tertarik untuk meneliti lebih dalam,” ungkap Abdus Salam, ketua tim peneliti.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa beban korban tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga psikologis. Banyak korban mengalami rasa takut berlebihan, kecemasan, hingga trauma sosial karena merasa dirinya telah “dikirimi ilmu hitam”. Ditambah lagi, stigma masyarakat sering membuat korban semakin tertekan.
Dalam penelusuran tim, Racun Sangga dikenal luas sebagai praktik ilmu hitam yang dikirim melalui perantara khodam atau jin. Proses pengiriman biasanya dilakukan oleh dukun dengan bantuan mantra dan sesajen tertentu. Konon, semakin kuat ritual yang dilakukan, semakin parah pula dampak yang dirasakan oleh korban.
Hasil penelitian PKM-RSH UMBJM menemukan bahwa Racun Sangga memiliki tiga dimensi utama:
- Medis : Luka menyerupai infeksi kulit yang memburuk, meski tanpa penyebab medis yang jelas.
- Psikologis : Korban dilanda ketakutan, cemas berlebihan, hingga trauma berkepanjangan.
- Spiritual : Dipandang sebagai kutukan atau hukuman, meski dalam ajaran Islam praktik ini jelas termasuk sihir yang dilarang.
Temuan ini sekaligus menegaskan bahwa Racun Sangga tidak bisa hanya dipahami dari satu sisi saja. Ia bukan sekadar mitos atau cerita mistis, melainkan realitas sosial yang nyata. Di Kalimantan, kepercayaan ini masih hidup, dan menempatkan masyarakat pada persimpangan antara tradisi lokal dan ilmu pengetahuan modern. “Fenomena Racun Sangga membuka mata kita bahwa kesehatan fisik, mental, dan spiritual masyarakat saling berkaitan. Ini bukan hanya soal mistis, tetapi juga tantangan besar bagi tenaga medis, psikolog, dan tokoh agama untuk memberikan pendekatan yang holistik,” tambah salah satu anggota tim riset.
Penelitian ini juga menemukan bahwa di balik sisi gelapnya, fenomena Racun Sangga memiliki nilai penting untuk dipelajari. Ia mencerminkan cara masyarakat memahami sakit dan penderitaan, bagaimana mereka mencari penjelasan ketika medis tidak mampu memberi jawaban, sekaligus menunjukkan eratnya hubungan antara budaya, kepercayaan, dan kesehatan.