
Kampus Utama, 23 September 2025 – Sekelompok mahasiswa Universitas Muhammadiyah Banjarmasin (UMB) berhasil menghadirkan inovasi baru di bidang farmasi. Melalui Program Kreativitas Mahasiswa Riset Eksakta (PKM-RE), mereka mengembangkan sediaan obat Telmisartan menjadi Orally Disintegrating Tablet (ODT) berbasis teknologi mikroenkapsulasi.
Tim ini dipimpin oleh Difa Az-Zahra dengan anggota Nabila Nur Annisa, Raudatul Hasanah, Nur Ijatil Nazwa, dan Alya Anggryanti, serta dibimbing oleh apt. Aris Purwanto, M.Farm.
Latar Belakang Inovasi
Telmisartan merupakan obat yang biasa digunakan untuk terapi hipertensi. Obat ini termasuk ke dalam kelas II Biopharmaceutics Classification System (BCS) yang memiliki kelarutan rendah namun permeabilitas tinggi. Selain itu, banyak pasien – khususnya usia lanjut – mengalami disfagia atau kesulitan menelan obat dalam bentuk tablet konvensional.
Hal ini seringkali membuat pasien tidak patuh minum obat, sehingga menurunkan efektivitas terapi. Dari sinilah lahir ide membuat sediaan ODT Telmisartan, yaitu tablet yang bisa hancur dengan cepat di mulut tanpa harus ditelan dengan air.
Teknologi Mikroenkapsulasi

Dalam penelitian ini, tim menggunakan metode mikroenkapsulasi untuk mengatasi dua masalah sekaligus: meningkatkan kelarutan Telmisartan dan menutupi rasa pahitnya. Teknik yang dipakai adalah metode penguapan pelarut, di mana partikel obat dilapisi sehingga menghasilkan bentuk yang lebih mudah larut.
Setelah itu, Telmisartan yang sudah dimodifikasi diformulasikan menjadi ODT dengan metode kempa langsung. Bahan tambahan seperti sodium starch glycolate digunakan sebagai superdisintegrant untuk mempercepat hancurnya tablet saat dikonsumsi.

Serangkaian Uji Laboratorium
Inovasi ini tidak berhenti hanya pada tahap formulasi. Tim mahasiswa juga melakukan berbagai pengujian mutakhir di laboratorium, di antaranya:
FTIR (Fourier Transform Infrared Spectroscopy) → untuk memastikan tidak ada perubahan struktur kimia yang merugikan pada obat.
XRD (X-Ray Diffraction) → untuk melihat perubahan sifat kristalin menjadi lebih amorf, sehingga obat lebih mudah larut.
PSA (Particle Size Analyzer) → untuk mengukur ukuran partikel hasil mikroenkapsulasi.
SEM (Scanning Electron Microscope) → untuk melihat bentuk dan permukaan partikel dengan perbesaran tinggi.
Selain uji karakterisasi, dilakukan juga evaluasi fisik tablet, seperti pengamatan organoleptis (warna, bau, bentuk), keseragaman bobot, kekerasan, kerapuhan, waktu hancur, hingga kemampuan menyerap air.
Uji terakhir adalah uji disolusi, yaitu mengukur seberapa cepat obat terlepas ke dalam cairan tubuh. Uji ini dilakukan menggunakan alat disolusi tipe II dengan media dapar fosfat pH 6,8, mendekati kondisi tubuh manusia.
Hasil Penelitian
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Telmisartan dalam bentuk mikroenkapsulasi memiliki kristalinitas lebih rendah dibanding bentuk aslinya, sehingga lebih mudah larut. Selain itu, rasa pahit obat berhasil ditutupi, membuat ODT Telmisartan lebih nyaman dikonsumsi pasien.
Tablet ODT yang dihasilkan juga memenuhi syarat mutu secara fisik, mulai dari kekerasan, kerapuhan, hingga waktu hancur yang singkat. Dengan demikian, inovasi ini dinilai layak untuk dikembangkan lebih lanjut.
Manfaat dan Harapan
Menurut tim peneliti, inovasi ini memiliki manfaat besar baik dari segi medis maupun sosial. Dari sisi medis, pasien hipertensi akan lebih terbantu karena obat menjadi lebih mudah dikonsumsi tanpa harus ditelan dengan air. Dari sisi sosial, inovasi ini bisa meningkatkan kepatuhan pasien minum obat, sehingga terapi menjadi lebih efektif.
Tak hanya itu, penelitian ini juga membuka peluang pengembangan industri farmasi di Indonesia. Dengan adanya teknologi mikroenkapsulasi pada ODT, produk obat dalam negeri bisa bersaing dengan inovasi farmasi global.
“Harapan kami, penelitian ini tidak berhenti di laboratorium saja, tapi bisa menjadi produk nyata yang bermanfaat bagi masyarakat luas,” ujar salah satu anggota tim.