
Balangan, 28 Agustus 2026 – Potensi madu kelulut di Desa Balida terus dikembangkan menjadi produk olahan yang memiliki nilai tambah melalui kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Muhammadiyah Banjarmasin (UMBJM). Melanjutkan hasil riset yang sebelumnya dilakukan Lembaga Riset dan Inovasi (LRI) UMBJM, mahasiswa KKN tahun ini mengimplementasikan pengembangan madu kelulut bersama masyarakat melalui inovasi produk bernama Kelumi.
Potensi madu kelulut di Desa Balida dinilai cukup besar untuk dikembangkan menjadi berbagai produk turunan. Selama ini, madu kelulut lebih banyak dimanfaatkan sebagai produk konsumsi langsung. Melalui kegiatan KKN, potensi tersebut kemudian dikembangkan menjadi produk yang lebih beragam dengan tetap mempertimbangkan ketersediaan bahan, kemudahan proses produksi, penerimaan masyarakat, serta peluang keberlanjutan setelah program KKN berakhir.
Melalui inovasi Kelumi, mahasiswa berhasil mengembangkan tiga produk berbahan dasar madu kelulut, yaitu Kelumi Gummy, Kelumi Wedang, dan Kelumi Oat Cookies. Ketiganya dikembangkan sebagai bentuk diversifikasi pemanfaatan madu kelulut sehingga tidak hanya terbatas pada konsumsi madu secara langsung.
Transfer Pengetahuan kepada Masyarakat
Dalam proses pengembangan produk, mahasiswa turut melakukan transfer teknologi dan pengetahuan kepada masyarakat dengan memanfaatkan kompetensi yang dimiliki, khususnya dari bidang kefarmasian dan kesehatan. Pendampingan dilakukan melalui praktik langsung, mulai dari pemilihan bahan, pengolahan bahan herbal, pencampuran dengan madu kelulut, penentuan takaran, tahapan produksi, hingga aspek kebersihan dan pengemasan.
Proses produksi juga disesuaikan dengan kondisi masyarakat. Teknologi yang diterapkan relatif sederhana dan menggunakan peralatan yang mudah diperoleh, sehingga masyarakat diharapkan dapat memahami serta melanjutkan proses produksi secara mandiri setelah kegiatan KKN selesai.
Untuk Kelumi Wedang, proses pengembangan dilakukan melalui persiapan bahan herbal, pengolahan melalui perebusan atau ekstraksi, kemudian pencampuran dengan madu kelulut dengan memperhatikan komposisi dan cita rasa. Sementara itu, Kelumi Oat Cookies dikembangkan melalui proses pembuatan cookies dengan madu kelulut sebagai salah satu komponen adonan. Selama proses pengembangan, dilakukan sejumlah penyesuaian untuk mendapatkan rasa, tekstur, aroma, dan bentuk yang dapat diterima masyarakat sekaligus mudah diproduksi secara berkelanjutan.

Dorong Kemandirian Ekonomi Masyarakat
Dalam pelaksanaannya, mahasiswa menghadapi sejumlah tantangan, salah satunya terkait keterampilan dan pengalaman masyarakat dalam mengolah madu kelulut menjadi produk turunan. Pendampingan pun dilakukan secara bertahap agar masyarakat dapat memahami proses produksi sekaligus menyesuaikannya dengan kemampuan dan kondisi yang ada di lapangan.
Respons masyarakat terhadap pengembangan Kelumi terbilang positif. Masyarakat menunjukkan antusiasme saat mengikuti praktik pembuatan produk dan melihat secara langsung bahwa madu kelulut yang tersedia di Desa Balida dapat diolah menjadi produk dengan bentuk dan konsep yang beragam.
Dari sisi BUM Desa, inovasi tersebut juga mendapat respons baik karena dinilai memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai bagian dari diversifikasi usaha dan produk unggulan desa. Pemanfaatan potensi lokal menjadi salah satu kekuatan Kelumi untuk dikembangkan lebih lanjut oleh masyarakat maupun kelembagaan desa.
Kegiatan ini memberikan manfaat dalam peningkatan pengetahuan dan keterampilan masyarakat, sekaligus membuka wawasan mengenai peluang pengembangan potensi lokal menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi. Dengan adanya produk turunan, madu kelulut diharapkan tidak hanya dipandang sebagai komoditas mentah, tetapi dapat dikembangkan menjadi produk bernilai tambah dan memiliki daya jual.
Bagi mahasiswa, proses tersebut juga menjadi pengalaman pembelajaran langsung dalam menerapkan pengetahuan akademik di tengah masyarakat. Selain belajar mengembangkan produk, mahasiswa mendapatkan pengalaman dalam berkomunikasi, berkoordinasi, dan bekerja sama dengan masyarakat. Keberhasilan program KKN tidak hanya dilihat dari produk yang dihasilkan, tetapi juga dari sejauh mana pengetahuan dan keterampilan yang diberikan dapat diterima, dipahami, serta berpotensi dilanjutkan oleh masyarakat.

Kelumi Ditargetkan Berlanjut Setelah KKN
Ke depan, mahasiswa berharap Kelumi dapat terus dikembangkan dan tidak berhenti sebagai produk hasil kegiatan KKN. Masyarakat Desa Balida maupun BUM Desa diharapkan dapat melanjutkan proses produksi dan mengembangkan produk tersebut secara berkelanjutan.
Pengembangan lanjutan dapat diarahkan pada penyempurnaan formulasi, peningkatan kualitas dan konsistensi produk, pengembangan desain kemasan, pemenuhan legalitas produk, serta penguatan strategi pemasaran. Koordinasi antara universitas, BUM Desa, dan masyarakat juga diharapkan dapat terus terjalin agar proses pendampingan dan pengembangan Kelumi dapat berlanjut setelah program KKN selesai.
Melalui pengembangan Kelumi, kegiatan KKN UMBJM tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan sebuah produk, tetapi juga membangun fondasi pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam mengembangkan potensi madu kelulut secara mandiri dan berkelanjutan. Upaya tersebut menjadi bagian dari kontribusi perguruan tinggi dalam mendorong pemanfaatan potensi lokal sekaligus menghadirkan dampak nyata bagi masyarakat Desa Balida.