Detail

Tim Peneliti Farmasi UMBJM Eksplorasi Potensi Daun Tigarun untuk Bahan Baku Farmasi dan Produk Kesehatan

01/09/2025 admin

Barito Kuala, 1 September 2025 – Fakultas Farmasi Universitas Muhammadiyah Banjarmasin (UMBJM) kembali menunjukkan kiprahnya dalam riset berbasis bahan alam dengan mengembangkan pemanfaatan daun tigarun (Crateva magna DC.). Penelitian ini dipimpin oleh Yulianita Pratiwi Indah Lestari, M.Farm., didukung oleh Noor Kamalia, M.Farm., serta melibatkan mahasiswa Farmasi Nur Maulidah dan Ra’idah Luthfia.

Tujuan utama penelitian adalah menggali potensi daun tigarun baik dari sisi kandungan senyawa aktif maupun seratnya. Ekstrak daun tigarun diteliti untuk mengetahui aktivitas antioksidannya, sementara residu serat dari daun tersebut diolah menjadi selulosa mikrokristal (MCC), yaitu salah satu bahan tambahan obat (eksipien) yang sangat penting dalam formulasi tablet modern.

Simplisia Serbuk Daun Tigarun

Hasil Hidrolisis Mikrokristalin Selulosa (MCC) Daun Tigarun

Selama ini, hampir seluruh kebutuhan MCC di industri farmasi Indonesia masih bergantung pada impor. Dengan keberhasilan mengolah MCC dari sumber daya lokal seperti tigarun, diharapkan Indonesia dapat mulai mengurangi ketergantungan tersebut. “Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa daun tigarun berpotensi besar untuk dikembangkan sebagai sumber bahan baku farmasi lokal yang bernilai ekonomis,” jelas Yulianita.

Selain itu, aktivitas antioksidan dari ekstrak etanol daun tigarun juga menunjukkan potensi besar dalam pencegahan penyakit degeneratif yang berkaitan dengan stres oksidatif, seperti hipertensi, diabetes, dan penuaan dini. Hal ini membuka peluang pemanfaatan tigarun tidak hanya dalam bidang farmasi, tetapi juga dalam pengembangan produk suplemen kesehatan dan pangan fungsional.

Secara tradisional, masyarakat Kalimantan Selatan telah lama mengenal tigarun sebagai tanaman obat. Daun, bunga, batang, dan akarnya digunakan untuk berbagai pengobatan turun-temurun, mulai dari ramuan pencernaan, perawatan kesehatan wanita, hingga olahan pangan khas seperti jaruk tigarun. Melalui penelitian ini, potensi tradisional tersebut didorong ke ranah ilmiah modern untuk memberikan bukti manfaat sekaligus membuka peluang hilirisasi produk.

“Pemanfaatan tigarun tidak hanya bernilai dari sisi etnobotani, tetapi juga dapat memberikan kontribusi nyata bagi kemandirian farmasi di Indonesia. Dengan penelitian berkelanjutan, tigarun bisa berkembang menjadi komoditas lokal strategis yang bernilai ilmiah sekaligus ekonomis,” ujar Yulianita.

Ke depan, tim peneliti berencana melanjutkan riset dengan melakukan uji lanjutan terhadap kandungan flavonoid dan fenolik total, serta mengembangkan formulasi farmasi berbasis MCC dari tigarun. Tim juga menargetkan publikasi ilmiah serta pengajuan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) dari inovasi yang dihasilkan.

“Penelitian ini diharapkan tidak hanya memberi kontribusi pada pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi masyarakat dan industri. Tigarun bisa menjadi salah satu komoditas unggulan Kalimantan Selatan yang bernilai strategis di bidang kesehatan,” tambah Noor Kamalia. (ar)